Penikmat Hujan
Pagi itu, aku memutuskan untuk mencuri kembali sepercik keceriaanku yang direnggut paksa oleh usia. Aku memutuskan untuk bermain, menari di bawah rintik hujan.... sendirian.... berjalan....
Rasanya bak seorang pendekar, yang berada paling depan. memimpin pasukan perang.
Hanya sendirian. Lantas pikiranku bertanya-tanya.... Mengapa hanya aku yang berani menembus air hujan? Mengapa orang-orang seolah takut pada air hujan? Mengapa mereka menggunakan payung, mantel, berteduh dan berbagai macamnya untuk melindungi diri dari air hujan? Bukankah kata Tuhan, air hujan itu berkah? Lalu, mengapa mereka menghindar?
Berhentilah beranggapan bahwa air hujan itu datang bersama rombongan penyakit.... itu hanya terjadi, jika kau menyambutnya dengan hati ragu. Cobalah menyambutnya dengan kebahagiaan.... tentulah air hujan juga akan membalasmu dengan kegembiraan dan keceriaan.
Dari aku "Penikmat Air Hujan"
Rasanya bak seorang pendekar, yang berada paling depan. memimpin pasukan perang.
Hanya sendirian. Lantas pikiranku bertanya-tanya.... Mengapa hanya aku yang berani menembus air hujan? Mengapa orang-orang seolah takut pada air hujan? Mengapa mereka menggunakan payung, mantel, berteduh dan berbagai macamnya untuk melindungi diri dari air hujan? Bukankah kata Tuhan, air hujan itu berkah? Lalu, mengapa mereka menghindar?
Berhentilah beranggapan bahwa air hujan itu datang bersama rombongan penyakit.... itu hanya terjadi, jika kau menyambutnya dengan hati ragu. Cobalah menyambutnya dengan kebahagiaan.... tentulah air hujan juga akan membalasmu dengan kegembiraan dan keceriaan.
Dari aku "Penikmat Air Hujan"
Komentar
Posting Komentar