Aku Gerbong Makan
Ray menggeser pintu gerbong makan, melangkah masuk. Aroma makanan tercium. Perutnya yang kosong semakin bernyanyi. Tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Memutuskan naik kereta paling pagi. Ray mendekati petugas gerbong makan, menyebutkan pesanan, setelah melirik daftar harganya. Lantas melangkah mencari meja kosong. Ada banyak meja kosong. Ray memutuskan memilih meja di pojokan gerbong. Lebih tenang, lebih leluasa menyimak pemandangan di luar. Dia ingin menikmati makan siangnya sendirian.
"Pesanannya, Nona." Pelayan gerbong mengantarkan nampan ke penumpang yang duduk di depan Ray. Ray menoleh. Bukankah dia datang lebih dulu? memesan lebih awal. Bukankah gadis yang duduk di situ? itu seharusnya pesanan miliknya, bukan? Ray bangkit, hendak bertanya.
Juru masak di dapur lebih dulu meneriaki palayan yang salah antar."Itu untuk yang duduk di pojok gerbong. Bukan yang itu, bodoh!" Pelayan yang diteriaki mengecek kertas di tangannya, salah-tingkah. "Maaf, saya keliru." Berbasa-basi hendak menarik lagi nampan dari hadapan gadis itu. Menunjuk-nunjuk Ray yang duduk di belakangnya. "Pesanan yang di pojok." Mencoba menjelaskan.
Gadis itu menoleh. Menatap Ray.
Dan Ray yang berdiri hendak protes, mendadak membeku. Seketika. Terpesona
Eh, tidak apa-apa... untuk ia saja... aku belakangan. "Seru Ray"
Gadis itu membalik lagi badannya. Tidak ada ucapan terima-kasih dari gadis itu. Tidak ada sepatah kata pun, yang ada hanya tatapan datar, kosong.
Setengah jam berlalu, gadis itu tetap disana meski piringnya sudah kosong. Gadis itu memutar kursinya pelan. Menoleh keluar jendela. Menatap hamparan sawah. Dan Ray sekarang bisa melihat separuh wajahnya sekarang. Seperti melihat separuh wajah rembulan.
Ray menelan ludah. Masih sibuk mencuri-curi pandang separuh wajah rembulan itu. Dan gadis itu mendadak menoleh ke arah Ray.
Ray gelagapan. Aduh, dia ketahuan. Dengan ekspresi muka aneh terlihat. Ray menyeringai amat buruk, mengangkat tangan. Dengan bodohnya melambai kecil. mengatakan "Hai-". Sekejap mata bersitatap. Dan gadis itu tanpa ekspresi lagi seperti hanya melihat patung batu, atau menatap sesuatu yang tidak penting.Dan kembali menatap keluar jendela.
Ray menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Lazimnya seseorang yang terabaikan pastilah akan mundur sebelum malu semakin memerahkan daun telinga. Tapi Ray malah bersorak dalam hati. "Dia menoleh. Dia baru saja menoleh ke arahku. Oh ibu, apa maksudnya?
Ah, Ray benar-benar harus belajar banyak urusan ini. (Rembulan Tenggelam di Wajahmu)
"Pesanannya, Nona." Pelayan gerbong mengantarkan nampan ke penumpang yang duduk di depan Ray. Ray menoleh. Bukankah dia datang lebih dulu? memesan lebih awal. Bukankah gadis yang duduk di situ? itu seharusnya pesanan miliknya, bukan? Ray bangkit, hendak bertanya.
Juru masak di dapur lebih dulu meneriaki palayan yang salah antar."Itu untuk yang duduk di pojok gerbong. Bukan yang itu, bodoh!" Pelayan yang diteriaki mengecek kertas di tangannya, salah-tingkah. "Maaf, saya keliru." Berbasa-basi hendak menarik lagi nampan dari hadapan gadis itu. Menunjuk-nunjuk Ray yang duduk di belakangnya. "Pesanan yang di pojok." Mencoba menjelaskan.
Gadis itu menoleh. Menatap Ray.
Dan Ray yang berdiri hendak protes, mendadak membeku. Seketika. Terpesona
Eh, tidak apa-apa... untuk ia saja... aku belakangan. "Seru Ray"
Gadis itu membalik lagi badannya. Tidak ada ucapan terima-kasih dari gadis itu. Tidak ada sepatah kata pun, yang ada hanya tatapan datar, kosong.
Setengah jam berlalu, gadis itu tetap disana meski piringnya sudah kosong. Gadis itu memutar kursinya pelan. Menoleh keluar jendela. Menatap hamparan sawah. Dan Ray sekarang bisa melihat separuh wajahnya sekarang. Seperti melihat separuh wajah rembulan.
Ray menelan ludah. Masih sibuk mencuri-curi pandang separuh wajah rembulan itu. Dan gadis itu mendadak menoleh ke arah Ray.
Ray gelagapan. Aduh, dia ketahuan. Dengan ekspresi muka aneh terlihat. Ray menyeringai amat buruk, mengangkat tangan. Dengan bodohnya melambai kecil. mengatakan "Hai-". Sekejap mata bersitatap. Dan gadis itu tanpa ekspresi lagi seperti hanya melihat patung batu, atau menatap sesuatu yang tidak penting.Dan kembali menatap keluar jendela.
Ray menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Lazimnya seseorang yang terabaikan pastilah akan mundur sebelum malu semakin memerahkan daun telinga. Tapi Ray malah bersorak dalam hati. "Dia menoleh. Dia baru saja menoleh ke arahku. Oh ibu, apa maksudnya?
Ah, Ray benar-benar harus belajar banyak urusan ini. (Rembulan Tenggelam di Wajahmu)
Komentar
Posting Komentar