Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Belajarlah dari Palu dan Donggala

SEBUAH SERUAN!!! Dari peristiwa Palu dan Donggala, Kita diajarkan bahwa.. Harta dan tahta, yang mungkin kita perjuangkan bertahun-tahun di kehidupan kita, Bahkan hanya dalam sekelibat waktu, Allah bisa musnahkan semuanya. Mana yang katanya manusia adalah makhluk yang paling segala-galanya? Bahkan ketika Allah merampas semua yang dimilikinya, ia tak punya daya.. Jangankan melawan, ajal saja sudah berada di depan mata. Mana yang katanya manusia adalah makhluk yang paling hebat? Masih ingin merasa hebat? Dengan meninggalkan perintah Allah.. Sebenarnya kita sudah dikata menyombongkan diri dihadapannya.. Maka kembalilah ke koridor yang benar.. Ini peringatan, karena Allah sayang.. Ia tak ingin manusia terlena lebih lama lagi dengan tipu daya dunia yang fana. Sesungguhnya jika manusia berada dalam jalan yang benar, justru manusia yang dengan senang hati menunggu-nunggu kematian datang. Bukan kematian yang menunggu kita pulang. Belajarlah dari Palu dan Donggala Kawan!

Rindu Itu Tega

Rindu itu tega, ia bisa datang kapan saja ia mau. Ku ingin kelak... Ketika kita berhasil menuntaskan rindu.. Tak ada lagi Aku yang cinta kamu, Tak ada lagi kamu yang benci Aku.

Dunia Tak Lebih dari 61 Tahun Lagi

Jika ku katakan; Umur dunia tak akan lebih dari 61 tahun lagi. Maukah kau membersamaiku mulai sekarang? Sampai nanti dunia hancur! Menghancurkan kota, harta, tahta, termasuk menghancurkan kita. Tapi tidak dengan cinta kita. Ia akan tetap ada, kubawa sampai pada kehidupan berikutnya.

Boleh Aku Pinjam Namamu Puan?

Tuan : Puan, boleh aku meminjam sesuatu? Puan : Tentu, kau ingin meminjam apa, Tuan? Tuan : Aku pinjam namamu untuk ku ceritakan di hadapan Tuhan; perihal aku mencintaimu. Aku ingin memperjuangkanmu sampai pada titik Tuhan menentukan. Dan, Aku ingin menghalalkanmu sampai pada titik Tuhan merestui.

Kau Ingkar Janji Puan

Aku sempat rapuh ketika membaca tulisan pada salah satu caption di media sosialmu, Kau mencintai orang lain lagi, setelah aku. Lalu sampai pada... Aku benar-benar hancur ketika melihat unggahan foto seseorang di media sosialmu. Masih ku ingat jelas, bukankah dulu ketika kau paksa aku melepas genggaman tanganmu, kau mengatakan ingin sendiri dulu??? Kau ingkar janji padaku Puan!

Nona!

Nona! Di balik caci maki yang mereka lontarkan kepadaku, Ada diriku yang selalu berdiri bermimpi berharap kamu mendukungku. Dan Dibalik hinanya aku dihadapan mereka, Ada diriku yang tak pernah memandang negatif sedikitpun ke arahmu.

Saling Mengidolakan

Kemudian datang suatu masa, Sahut menyahut antara perasaan masing-masing, Saling mengidolakan satu sama lain, Benar saja! Hati tak mampu dibohongi. Kamu telah menjadi alasan utamaku untuk menyusun puisi dalam hati.. Berharap suatu hari kau akan membaca.. Kemudian mengerti.. Ada yang rindu, disini! Aku rindu kamu yang dulu, Aku rindu disapa kamu, Yang tertawa denganku tak sesulit ini, Yang berbicara denganku tak sediam ini.

Pipi Tembemmu dan Rasa Sakit

Kau tahu? Mengapa aku sangat suka mencubit pipimu saat kita bersama? Ku harap, itu adalah rasa sakit paling sakit yang akan aku berikan padamu. Tetapi ternyata tidak!!! Kata "Pisah" adalah rasa sakit paling menyakitkan untuk kedua belah pihak terutama Aku. Mungkin.

Berbahagialah Masa Lalu

Apa kabar masa lalu? Dengan berbesar hati aku ucapkan... Berbahagialah masa laluku. Ku lihat kau sudah mampu tersenyum kembali dengan yang baru, Aku titipkan kisah-kisah kita yang sekelibat waktu itu, Kisah pertama saat kita berjumpa, Kisah pertama saat kita saling menyapa, Kisah pertama saat kita saling menggenggam tangan masing-masing, Hingga kisah pertama saat aku berhasil mengecup keningmu kala itu, Dengan sedikit usaha.. berdalih mengatakan bahwa ada nyamuk disana.. Aku tak suka jika ada yang mengecup keningmu di depanku termasuk nyamuk sialan itu. Aku tak tahu apakah pilihan barumu itu lebih sempurna dibanding aku yang dulu atau tidak.... Tapi yang jelas, ku lihat senyummu sudah merona dari biasanya.. Cintailah ia sebagai penebus ketidaksempurnaan cintamu kepadaku dahulu.. Peluk erat tubuhnya seperti pelukmu dahulu yang masih terasa hangat hingga kini di hatiku. Aku pernah berdoa pada Tuhan untuk memintamu bahagia, Meski aku lupa menyebut namaku perihal siapa ya...

Jantungku Masih Sehat

Jantungku masih sehat ketika kita tak sengaja berpapasan mata, siang tadi. Ia berdenyut 100 kali lebih cepat dari biasanya.

Aku Lebih Suka Kau yang

Aku lebih suka kau yang hobi berbelanja ke pasar, daripada keluyuran tanpa arah di Mal-mal. Aku lebih suka kau yang rela ku bonceng panas-panasan, daripada memesan grab car hanya karena takut hitam. Aku lebih suka kau yang mau ku ajak makan di pinggir jalan, daripada ke tempat-tempat mewah yang tak bikin kenyang. Aku lebih suka kau yang bisa tersenyum padaku walaupun tipis, daripada meringis ingin sekali menyapa tapi mulutmu tak mampu. Dan aku lebih suka melihatmu memakai mukena itu berjalan ke masjid, sholat berjamaah denganku, daripada hanya bercerita panjang lebar tentang duniamu.

Sudjiwo Tejo dan Candra Malik

Menikah adalah nasib, Mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, Tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa. (Sudjiwo Tejo) Mencintai adalah kata kerja, Dicintai adalah kata sifat, Tapi cinta bukan kata benda, Cinta itu kata hati. (Chandra Malik)

Bencilah Aku, Kumohon!

Sekarang aku (pura-pura) membencimu, sampai kau (benar-benar) membenci aku. Bagiku itu lebih baik, daripada kita terlihat baik-baik saja, padahal luka di hati masih membara-bara.

Hipotesisku Tentangmu; Gagal

"Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan." Semua kebahagiaan yang kau perdengarkan pada masa itu, Menjadi luka yang ku tuliskan hari ini. Perasaanku masih sama, saat kali pertama kita berjumpa. Sampai terakhir kali kau memutuskan untuk pergi. Dan kemudian diriku ku paksa untuk membenci, membencimu, membenci aku yang dulu, membenci kenangan kita yang lalu. Tapi tetap saja hipotesis mengarahkan pada kesimpulan "tidak ada yang pergi dari hati, tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan" mungkin sampai kita mati. Harapanku, kau jangan datang lagi. Ataupun jika kau harus datang, tolong jangan pergi lagi. Karena kehilanganmu dua kali, sakitnya akan sama dengan bunuh diri.