Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

.... dan Aku Masih Ingat

.... dan Aku masih ingat ketika ketika kau menumpahkan sedikit minyak telon di telapak tanganmu dan mengusapkan ke kedua telapak tanganku. .... dan Aku masih ingat ketika aku mencari-cari alasan untuk bisa pergi dari poskoku dan menjemput kau di poskomu hanya untuk ku ajak kau bertemu keluargaku. .... dan Aku masih ingat akrabnya kau dengan ibu dan adikku saat berbincang dengan wajah riang. .... dan Aku masih ingat ketika kau tak henti-hentinya memukul pundakku dan mencubit pinggangku, saat Aku ngebut-ngebutan memboncengmu. Ku sebut itu pukulan mesra dan cubitan manja. .... dan Aku masih ingat ketika kau menahanku di rumahmu dengan berbagai cara, agar aku tak pergi dengan cepat dan meninggalkanmu sendirian. .... dan yang paling Aku ingat adalah ketika akhirnya aku tidak menjadi pilihan dari banyaknya pilihanmu.

Titik Lemahku

Salah satu kelemahan terbesarku adalah jika sudah terlanjur sayang, maka akan sangat sulit untuk melepaskan. Satu-satunya cara untuk melupakan adalah dengan belajar membenci seseorang.

-

Kata orang; Biasanya ketika sudah menjadi mantan, ia akan jauh terlihat lebih cantik daripada saat kita membersamainya. Tapi pikiranku berbeda, bagiku akan tetap lebih cantik sesuatu yang sedang ku miliku sekarang, bukan sesuatu yang pernah ku miliku dulu. Begitulah caranya orang bersyukur.

-

Sudah.. sudah...!!! Aku sudah lelah.. Berhentilah bercerita tentang sakit hati.

-

Apakah dengan memutuskan melangkah pergi... Dapat menyelamatkan hati yang terlanjur disakiti?

Memilih Jodoh

J ika sa j a Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk memilih j odohku sendiri . . . . ----- Namamu pasti ada dalam daftar teratas .

Boleh Aku Menelpon Ibumu?

Tuan : Puan, boleh aku pinjam Handphone mu sebentar? Puan : Untuk apa? Tuan : Aku ingin menelpon ibumu. Puan : Heh.. untuk apa? Jangan aneh-aneh deh! Tuan : Cuma mau ngasih tau, kalau sekarang bidadarinya aman sama aku. Puan : Masuk Pak Eko! -__-

Namaku Digaris Miring

Mengapa sekarang kau garis miringkan namaku dalam tulisanmu? Seolah-olah aku adalah orang asing bagimu. Padahal dulu, kau garis bawahi namaku, seolah-olah aku adalah yang paling penting.

Anggap Aku!

Aku yang mendampingimu di saat-saat paling buruk dalam hidupmu. Menjagamu dengan sepenuh hati. Kurawat patah sayap-sayapmu. Namun ketika semua sudah mulai membaik, kau pergi. Kau terbang meninggalkanku dengan gagahnya seakan tidak pernah ada aku dalam hidupmu sebelumnya. Kau lakukan itu berkali-kali... terus-terusan. Berkali-kali tugasku hanya menyembuhkan lukamu, dan terus-terusan membuat luka baru di hatiku. Merayakan Kehilangan (Hal 38)

Menuju Pemakaman

Kehidupan itu kejam. Lidah itu tajam. Nanti sesaat sebelum kapalmu karam, dan sebelum kau mati ku rajam. Ayo kita ngopi sejam dua jam. Sebelum menuju pemakaman.

Aku Masih Belum

Aku ingin melihatmu sekarang seperti melihatmu dulu, ketika kita belum saling mengenal satu sama lain. Tak ada jantung yang berdebar seribu kali lipat saat tak sengaja bertatapan mata. Tak ada aku yang mengambil jalan lain, ketika ku lihat kau dari kejauhan, hanya karena takut aku salah tingkah bertemumu. Tak ada aku yang selalu menunggu-nunggu kau memperbarui status di media sosial dan aku menjadi yang pertama melihatnya. Tak ada aku yang cemburu mendengar kau menyukai seseorang lain. Tak ada aku yang sengaja membuat postingan hanya karena ingin kau melihat, dan ku hapus setelahnya. Hanya saja aku belum..... Aku masih melihatmu sebagai sesosok puisi yang berdiri kokoh dalam tulisanku, seolah-olah kau nyawanya.

-

Aku berhenti bukan karena merasa lelah, Memperjuangkanmu masih menjadi prioritas. Aku berhenti bukan karena merasa puas, Karena sudah berhasil menarik perhatianmu. Sejatinya aku berhenti karena sudah merasa cukup, Cukup untuk dibuat cemburu olehmu.

Aku Butuh Kau Sekarang

Aku ditikam berkali-kali dari berbagai penjuru. Berdarah-darah, bernanah-nanah. Sekarang dimana kau? Yang setahuku adalah tempatku paling aman untuk berlindung. Dimana? Sekarang Aku butuh!

Kepada Kamu; Aku Pergi

Kepada kamu. Aku tak menyangka berbicara berdua bisa menjadi sesulit ini sekarang. Kita seperti kita yang dulu sebelum saling mengenal. Tapi, bersamaan dengan tulisan ini bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu? Kau mau membacanya atau tidak itu terserah dirimu. Sengaja atau tidak sengaja. Sepintas atau berulang-ulang. Aku tidak akan berkata panjang-panjang, aku harus pergi sekarang, dan aku tidak tahu kapan akan kembali. Atau mungkin tidak sama sekali; aku masih belum tahu. Aku hanya ingin kau tahu satu hal sebelum aku pergi, Bahwa sempat dengan denganmu adalah hal paling indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Hampir itu menyedihkan, Kau hampir mencintaiku, Kita pernah hampir bersama. Tapi... #Merayakan Kehilangan #Brian Khrisna

Ikhtisar Merayakan Kehilangan

Sekarang, disana kau sudah bahagia tanpa aku. Sedang disini, kau masih menjadi alasan utama hilangnya bahagiaku. Aku lupa bahwa dalam setiap kata "jatuh cinta" selalu ada kata 'jatuh'. Dan aku lupa menyiapkan satu tempat untuk itu. Ku kira kau sudah akan menetap, tapi ternyata hanya beristirahat. Kau hanya mencintaiku setengah hati, sedang Aku mencintaimu setengah mati. Ku harap ini hanyalah jeda, sebelum kita yang lebih dewasa bertemu kembali dan jatuh cinta dari awal lagi. Jika kau sudah lelah, Aku disini adalah tempatmu pulang kapan saja. ~Brian Khrisna~

Bedanya Ringkasan dan Ikhtisar

Ringkasan adalah bentuk ringkas atau singkat dari sebuah karangan dengan tidak meninggalkan urutan-urutan gagasan dari yang melandasinya. Dengan kata lain kerangka dasarnya masih nampak. Sedang, Ikhtisar boleh tidak mempertahankan urutan-urutan gagasan yang membangun karangan itu. Penyusun ikhtisar bebas menyusun kalimat atau bahasa ikhtisar sepanjang gagasan dasarnya masih dapat tersampaikan.

Melepasmu? Aku Sudah

Lelah jari-jemari menari diatas pena. Lelah hati mengorek-ngorek luka ditempat yang sama. Lelah jiwa menyemayami perasaan yang ku sebut luka. Lelah otak dipaksa terus-terusan berpikir tentang kamu yang tak pernah nyata. Lelah kaki mencari tempat dimana sekarang kau berada. Lelah mata memandang kau yang sudah bahagia dengannya. Lelah telinga mendengar kau tertawa terbahak-bahak bersamanya. Lelah Aku terus-terusan cinta. Ketahuilah Nona! Melepasmu? Aku sudah.

Menetaplah di Rumah!

Jika boleh memilih, Aku ingin jadi rumahmu saja. Tempatmu kembali setelah lelah kaki berjalan. Rumahmu ini adalah tempat persinggahan favorit orang-orang yang tak sengaja mampir, beristirahat, kemudian pergi lagi tanpa pamit. Aku ingin kau menjadi tuan rumahku. Yang menetap... lama... selamanya. Yang tak menggores luka lagi, tepat di pintu depanku. Yang tak memecahkan harapan lagi, tepat di jendela kamarku. Akan ku gembok pagar rumahku kuat-kuat, hingga kau tak akan bisa beranjak pergi. Menetaplah... Akan ku buat kau nyaman di rumah.

Menunggumu, Candu!

Sepagi itu menjadi yang pertama berada di koridor kampus. Duduk, Memesan kopi... Kemudian melanjutkan membaca novel kesayanganku yang sebenarnya sudah dua kali ku tamatkan. Aku datang sepagi itu hanya karena satu alasan. Detik demi detik menuntunku menuju siang hari kala itu.... Aku melihatmu berjalan keluar kelas. Akhirnya... kataku dalam hati. Akhirnya aku bisa melihat paras manismu. Akhirnya aku bisa menyaksikan anggunnya langkah kakimu. Aku tak berani melihatmu terang-terangan, Hanya berusaha dengan melirik diam-diam diselingan aku menghirup kopiku dan membaca novelku. Aku memang seperti itu, lebih senang melihat keindahan dari sudut kejauhan, tak berani mendekat. Kemudian, Aku selalu menunggu jam pulangmu. Ketika kau sudah berada di depan gerbang, Buru-buru ku keluarkan motorku dari parkiran Menujumu... Tapi lagi-lagi mulutku masih saja kelu, Bahkan hanya untuk mengatakan "Biar aku yang mengantarmu pulang" Aku takut jika kau berjalan pulang sen...

Kau Takut!

Kau terlalu takut pada perasaan yang kau buat sendiri. Kau merasa takut kehilangan Aku, kelak. Kau merasa takut tidak dipedulikan Aku. Kau terus berpikir mencari alasan-alasan semacam itu. Ku pikir, berhenti berpikir semacam itu. Disini, aku bahkan punya 1000 alasan, mengapa memilihmu. Dan punya 1000 lebih alasan untuk bertahan denganmu. Kau malah berpikir, kau hanyalah pilihan dari sekian banyak pilihanku. Kau tenang saja, kau bukan pilihan, kau adalah tujuan. Kau tahu tidak? Kau adalah rahim dari keluarnya setiap kata-kata indahku.