Tuan dan Puan; Ketika Tuan Pamit
Pada suatu senja....
Tuan : Puan, Aku ingin bicara satu hal padamu.
Puan : Apa itu Tuan? Mengapa kau terlihat begitu serius kali ini?
Tuan : Aku ingin pergi?
Puan : Tuan hendak kemana?
Tuan : Kemana saja, asalkan itu jauh darimu.
(Tetiba suasana berubah menjadi begitu menakutkan kala itu bagi keduanya, terutama Puan yang seolah saat itu aliran darahnya tak lagi mengalir)
Puan : Tapi mengapa? (Puan membuka pembicaraan sambil mengusap dua bulir air mata yang tak sengaja jatuh kala itu dari kedua bola matanya)
Tuan : Aku tak mencintaimu. (membalikkan badan berusaha tegar, tapi hatinya menangis tak kalah dari tangisan dua bola mata Puan)
Ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakan. Orang terkadang memilih untuk memendam perasaan sendirian untuk sebuah kebaikan.
Tuan : Puan, Aku ingin bicara satu hal padamu.
Puan : Apa itu Tuan? Mengapa kau terlihat begitu serius kali ini?
Tuan : Aku ingin pergi?
Puan : Tuan hendak kemana?
Tuan : Kemana saja, asalkan itu jauh darimu.
(Tetiba suasana berubah menjadi begitu menakutkan kala itu bagi keduanya, terutama Puan yang seolah saat itu aliran darahnya tak lagi mengalir)
Puan : Tapi mengapa? (Puan membuka pembicaraan sambil mengusap dua bulir air mata yang tak sengaja jatuh kala itu dari kedua bola matanya)
Tuan : Aku tak mencintaimu. (membalikkan badan berusaha tegar, tapi hatinya menangis tak kalah dari tangisan dua bola mata Puan)
Ada beberapa hal yang tidak bisa diceritakan. Orang terkadang memilih untuk memendam perasaan sendirian untuk sebuah kebaikan.
Komentar
Posting Komentar